• Home
  • About
  • Friends
  • Stuff
facebook twitter instagram Google+ bloglovin Email

Annisa's Blog

 Duh per'mating-game'an ini gak pernah selesai rupanya dari zaman gue lulus SMA--covid, sampe sekarang gua semester akhir. 

Masih menjadi diskursus di twitter, sekarang X. Ada yang bikin tweet "fitur ini tuh bikin orang lain bisa godain cowo lu". Cuitan itu dibales lah dengan orang lain "HUF MALE-CENTERED." Jujur di detik pertama gua baca itu kayak ... hadeh ini lagi, ini lagi. TAPI GAPAPA. Karena di sini lah kita akan membedahnya. Dan gua memaklumi semua tindakan dan perilaku as long as they do no harm.

Sexual selection adalah buku lain dari Darwin, selain natural selectionnya. Dengan 2 poin yang disampaikan, intrasexual selection dan intersexual selection. Gue lebih seneng nyebut yang intrasexual dengan intrasexual competition.

Gua akan memberikan referensi jurnal since bahasan ini mostly gua dengar di podcast dan bercakap-cakap dengan chatgpt. Tapi more of that kita harus setuju dulu bahwa manusia adalah mamals dan bagian dari kingdom animalia. Kenapa teori darwin sexual selection ini ada karena pengamatan yang dilakukan di... burung merak (Petrie, 2021) yang cukup bertentangan dengan natural selectionnya. ASIK GUA MALAS SKRIPSI TAPI NULIS BLOG DENGAN REFERESI. SIAP-SIAP. SIAP BANGET.

Sebenarnya gua pribadi ngerasa tulisan ini terlalu simplified apa yang terjadi di manusia sih. Bahkan cara gua memandang mating game itu sendiri kali ya? Baca ini juga bisa nih kenapa manusia menarik buat jadi subjek penelitian mengenai mating game ini (Wilson, 2017).

Pertama intrasexual competition. Kompetisi antar individu pada jenis kelamin yang sama untuk mendapatkan akses pada pasangan. Pada beberapa spesies bentuknya jelas seperti perkelahian, menunjukkan kekuatan, atau dominasi. Kalau di manusia sebenernya banyak yang kita temuin

Contohnya mungkin kayak ajang kecantikan, kemudian ngerasa dia anak teknik (alpha male), menunjukkan status dalam sosial, ngejelekin cewek lain. ((Baca : “gue lebih desirable dibanding kompetitor gue.”)). Perilaku-perilaku ini bisa berada di dimensi intrasexual competition, meski engga selalu disadari secara langsung oleh tiap pelakunya.

Terus ada intersexual selection yang ngomongin tentang trait apa yang dianggap menarik oleh lawan jenis. Jadi kayak preferensi orang yang dimau terus kita berusaha buat hal-hal tersebut. Kayak misal cewe suka cowo matang dan kaya, cowo suka cewe yang penurut. Berusahalah individu ini menjadi begitu. TAPI SEKALI LAGI INI GA SADAR YA GUYS. 

Contoh lain kayak humor, atraktif, karismatik, sosial status, itu adalah hal-hal yang menarik kan nah akhirnya manusia berkompetisi buat punya itu. Sekali lagi itu bisa jadi dimensi dari sexual selection ini tadi tapi mungkin juga engga, dan perlu digarisbawahi bahwa manusia pun gak sadar dengan traits ini. Tapi ya kita udah cukup modern lah ya untuk define intention kita. Apapun ga salah sih guys mau punya traits karena mating game atau yaudah buat apa kek WKWKWK. APASIH GUA NULIS APA MAAF.

Nah di antara dua hal ini, intrasexual dan intersexual, saat suatu trait dianggap desirable, misal--misal nih ye orang BUMN dah, orang-orang jadi pengen gitu, nanti lomba-lomba deh nunjukin statusnya, dominasinya. Mungkin yang lain berlomba dalam segi seberapa menarik dia, kemampuan sosialnya atau yang lain-lain. Ga semua gitu, ga semua sadar, tapi ada polanya sih bahkan gua lihat dalam perilaku manusia sekitar bahkan yang di internet gitu-gitu.

JUJUR NGALOR NGIDUL mungkin baca-baca lagi aja kali ya tentang sexual selection ini. Dengan membaca dan memahami sisi biologi ini sebenarnya bukan berarti baik ya. Maksudnya kayak ada cewe nih jelekin cewe lain, "oh ini sisi biologis gue", sebagai manusia modern yang sadar, berintegritas, dan punya empati seharusnya kesimpulannya gak gitu ya.

Cemburu mungkin natural. Attention-seeking mungkin natural. Kompetisi romantis mungkin natural. Tapi manusia ga cuman impuls biologis, mungkin WKWKWK. Harusnya kita juga punya refleksi moral dan kemampuan memilih bagaimana kita ingin bertindak.

Jadi tujuan memahami ini bukan untuk, “ya emang manusia dasarnya begitu,” tapi untuk menjadi lebih aware terhadap diri sendiri. Setelah sada kemudian kita punya pilihan, sekadar bereaksi terhadap impuls atau benar-benar mikirin kita mau jadi orang gimana.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me
Follow

welcome to my blog, luv. Annisa. '02. Borneo. super ordinary gurl hm. Lov yo oll. let me share anything in here

Chit Chat

recent posts

Blog Archive

  • Mei 2026 (1)
  • Juli 2025 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Oktober 2024 (1)
  • Juni 2024 (2)
  • Mei 2024 (1)
  • November 2022 (1)
  • Oktober 2022 (1)
  • April 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Desember 2018 (1)
  • Juli 2018 (2)
  • Oktober 2017 (1)
  • Juni 2017 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (1)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (2)
  • Juni 2016 (3)
  • Mei 2016 (3)
  • April 2016 (2)
  • Maret 2016 (4)
  • Februari 2016 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates